ROBERT HENDRA GINTING, AP, M.Si

Wednesday, 25 June 2008

Mengapa Partai Besar Bingung Pilih Balon Kepala Daerah

Walaupun kebesaran nama sebuah partai politik tidak menjadi jaminan memenangkan pergulatan pelaku yang bertarung dalam Pemilihan Kepala Daerah, paling tidak sebuah partai politik lebih menjanjikan dibandingkan besaran peluang calon independen. Di beberapa tempat, keperkasaan balon kepala daerah yang didukung partai-partai gurem tidak terbendung dan justru menjadi rival terberat partai-partai raksasa. Pergeseran paradigma dan pola pikir analisa masyarakat dari sisi kepartaian menuju ketokohan menjadikan sosok seorang balon kepala daerahlah yang dominan berperan sebagai katalisator simpati orang. Pengalaman juga membuktikan, ada partai yang berlagak demokratis menjalankan peraturan partai yang mengakomodir aspirasi akar rumput, namun ada juga yang tidak perduli atau main atas. Ketika sebuah partai politik di daerah kebingungan menentukan jagoan balon kepala daerah yang akan diusung, para spekulan-pun sudah menduga-duga penyebab keraguan penetapan balon kepala daerah. Paling tidak, ada empat alasan tepat dikumandangkan bila ada partai yang masih menerima pendaftaran balon kepala daerah, walau pendaftaran akan berakhir. Keempat alasan itu seperti tidak adanya Balon yang populer, tidak ada kader partai yang memiliki nilai jual tinggi, partai kehabisan modal dan partai masih menganut pola orde baru.

Pertama : Tidak Ada Balon yang Populer. Alasan ini bisa saja menjadi pertimbangan sebuah partai besar menunda-nunda pengusungan Balon kepala daerah. Waktu yang cukup panjang dibutuhkan partai mencari-cari sosok ideal, dikenal masyarakat karena prestasi dan berkharisma dihadapan masyarakat.Alasan ini oke-oke saja, karena kebanyakan Balon kepala daerah muncul mengaku sebagai malaikat yang terpaksa turun gunung, katanya terpanggil membangun masyarakat. Padahal, kesehariannya saja dikeluarga dan masyarakat hanya ngeributin, trouble maker (pembuat masalah), dan tukang gosip murahan. Kehadirannya di tengah orang banyak bukan menyejukan bahkan cenderung menjijikkan. Sebahagian ada juga yang mengatakan dirinya briliant punya konsep ala hollywood yang spektakuler dan realistis, padahal kalau ditanya permasalahan yang dihadapi masyarakat, tidak tahu. Lucu kan, punya konsep membangun masyarakat tapi tidak mengetahui permasalahan masyarakatnya. Bisa saja, konsep itu contekan dari Balon-Balon kepala daerah di tempat lain yang berhasil walau topologi masyarakatnya berbeda. Kedua : Tidak Ada Kader Partai Yang Menjual. Susah memang bila dari awalnya jabatan hanya diformat bak sebuah kerajaan, turun temurun dan hanya melihat telunjuk pimpinan tertinggi ke arah mana. Siapa yang tidak bernafsu jadi ketua partai, bila harta dan tahta menari-nari dihadapannya. Pola kerajaan di partai sebenarnya sudah lama ada, dan yang namanya kerajaan, seorang raja punya kuasa termasuk mendapatkan proyek-proyek. Inilah penyebabnya, kader yang ada dalam sebuah partai cenderung karbitan yang masak sebelum waktunya. Lihat saja pada pilkada-pilkada di Indonesia, banyak kepala daerah yang tidak berasal dari partai-nya. Ini menandakan, kader-kader partai pada level pimpinan-pimpinan mampu tampil karena satu RT, satu keluarga, satu sekolah dan bahkan satu “geng motor”.

Ketiga : Partai Kehabisan Modal. Namanya kehabisan modal yang maknanya kehabisan ongkos. Kalau kehabisan ongkos, gimana bisa sampai ke tujuan dan bila jalan kaki, capek…deh. Nah, saatnya mencari modal biar bisa maju dalam Pemilu Legislatif mendatang. Untuk menyiapkan sebuah kapal buatan partai bagi Balon kepala daerah, sebahagian orang pemodal (kaya) tidak ragu mengeluarkan 5 Milyar sambil duduk-duduk ngelihatin orang sibuk bawa mesin foto copy dan masuk angin ngumpulin foto copy KTP. Namanya juga jualan, harga ditentukan banyak hal. Kalau semakin banyak yang menawar, biasanya sombong penjual muncul. Tapi ingat saat berbelanja durian di pajak, ketika matahari mulai terbenam, harga durian yang tadinya 15 ribu berubah jadi 5 ribu rupiah itupun pakai bonus.Keempat : Partai Masih Menganut Pola Orde Baru. Masalah ini, sebenarnya tidak cocok lagi dipraktekkan di era reformasi demokrasi sekarang. Selain menimbulkan pembelajaran jelek terhadap makna kaderisasi dalam sebuah partai, kekompakan pun terkikis bila praktek-praktek seperti ini tetap dikedepankan pimpinan partai tertinggi di Jakarta. Kader akan berpikir dua kali mencalonkan diri berlaga dalam Pilkada melalui partai-partai yang letih berdoa di daerah namun menunggu kata amin dari Jakarta. Bisa saja sewa kapal pada partai ini, tapi harus bawa bika ambon juga ke Jakarta ditambah salak dan ulos-lah biar tersentuh hatinya.Memang jadi dilema bagi partai-partai besar, disaat balon-balon kepala daerah dengan masing-masing kapalnya sudah berlayar dari satu tempat ke tempat lain, dianya masih sibuk ngintip-ngintip yang gak jelas. Untungnya ada, tetapi ruginya lebih banyak. Itulah politik yang penuh intrik dan senyuman palsu, jauh berbeda dengan poliklinik yang penuh pasien dan polibek tempat bunga mekar yang menyejukan hati walau ada ulat bulunya.

1 comment :

infogue said...

artikel anda :


http://politik.infogue.com/
http://politik.infogue.com/mengapa_partai_besar_bingung_pilih_balon_kepala_daerah

jadikan artike anda yang terbaik dan terpopuler.salam blogger!!!