ROBERT HENDRA GINTING, AP, M.Si

Monday, 3 November 2008

KOALISI PASCA RONDE PERTAMA

Pemilihan kepala daerah di level gubernur, bupati maupun walikota, pada kenyataannya memaksa individu maupun komunitas melakukan penetrasi random kepada lawan-lawannya. Berbagai bentuk aksi reaksi dipertontonkan melakonkan skenario-skenario dengan tujuan menjatuhkan lawan, menaruh simpati dan menjadi pemenang. Sekenario yang dijalankan paling tidak terbagi dalam tiga bentuk. Bentuk Pertama adalah Skenario Diam. Skenario Diam ini dilatarbelakangi kepercayaan berlebihan terhadap keyakinan mendalam akan banyaknya pendukung dirinya. Peran Tim Sukses (TS) menjadi pemicunya. Pada kasus ini, Balon Kepala Daerah, merasa tidak perlu lagi.. melakukan kampanye yang membumi dan menggelora karena membaca peta dukungan masyarakat kepadanya berdasar laporan TS. Tentu saja nina bobok TS patut di “meja hijaukan” bila kenyataannya sang TS “nakal” merasa berada dalam “Kapal Pesiar” atau “Kapal Bocor “ walau kebanyakan TS demikian. Akibatnya bisa ditebak, dukungan suara pada saat pencoblosan sangat menjengkelkan sekali. Skenario kedua, disebut Skenario Urat Syaraf. Namanya skenario yang melibatkan urat syaraf, tentu melibatkan intelegensia atau mendaulat kemampuan pikir yang matang menjadi bos. Kita sering mendengar perang urat syaraf, tapi masih meraba-raba maknanya. Urat syaraf itu adalah sama seperti kabel-kabel pada kendaraan kita. Masing-masing kabel mempunyai tugas masing-masing yang bekerja agar fungsinya berjalan. Bila di analogikan ke proses pemilihan kepala daerah, perang urat syaraf ini bersentuhan dengan sendi-sendi esensial masyarakat seperti, suku – agama – ras – antar golongan atau yang kita kenal SARA. Untuk menjatuhkan seseorang dalam perang urat syaraf ini, isu-isu dilontarkan seputar SARA sehingga “kabel-kabel “ yang disusun menjalankan sebuah kendaraan motor atau “kapal pilkada” korslet/kontak. Perang urat syaraf sejatinya tidak merusak komponen “kabel-kabel” atau pelaku dalam komunitas SARA, namun “meracuni” pemikiran mereka melalui penyusupan doktrin-doktrin (ajaran/informasi) yang membawa alam pikir mereka ke arah alam pikir yang lebih dekat kepada kepentingan suku, agama, ras, dan golongan tertentu. Namun perang urat syaraf yang cenderung dilakukan dengan sasaran tembak lawan kita di bumbui dengan arogansi dan kesombongan atribut diri, cenderung merugikan. Pada akhirnya Perang Urat Syaraf yang genderangnya kita tabuh, justru menjadi bumerang (senjata makan tuannya). Skenario ketiga, disebut Skenario Tukang Pangkas Rambut. Kalau kita perhatikan tukang pangkas rambut yang memangkas, tujuannya hanya satu yaitu membentuk atau memotong rambut kita sesuai keinginan kita, analoginya - kalau di Pilkada, model rambut yang diinginkan adalah komitmen hati masyarakat kepada kita. Kemudian, tukang pangkas yang di analogikan Balon Kepala Daerah dan para TS, mulai mencukur dan merapikan rambut kita sedikit demi sedikit sehingga yang di pangkas senang (masyarakat). Jika Balon Kepala Daerah dan TS merasa hasil cukuran atau pangkasnya baik maka ia akan bertanya kepada yang di pangkas apakah sudah cocok atau sesuai dengan keinginannya ? Jika belum, sang tukang pangkas atau TS akan merapikannya lagi. Intinya, masyarakat atau yang dipangkas itu : kesatu merasa aman dan percaya kita memotong rambutnya, kedua : merasa keinginan atau cita-citanya akan tercapai bila memilih tempat pangkas itu, dan ketiga : masyarakat akan merasa aman, nyaman dan tentram saat dipangkas atau berada dalam kepimimpinannya serta jangan sampai masyarakat terlalu sering komplain bahkan marah. Skenario kedua dan ketiga biasanya menjadi idola. Alasan kuat orang mempraktekkan skenario kedua adalah disebabkan lawannya dipandang seimbang atau lebih kuat dari diriinya dan perlu dipraktekkan teori teori pembusukan bahkan black campaign (kampanye hitam). Pada skenario kedua ini, cenderung berunculan para “pelacur politik “ bertindak sebagai informan ataupun “tukang pukul” balon kepala daerah lainnya. Skenario ketiga lebih bijaksana yang memfokuskan tindakan membenahi diri serta mencari dukungan sebanyak banyaknya tanpa teori pembusukan dan black campaign. Pada masa pemilihan kepala daerah tahap pertama yang masih diikuti banyak Balon Kepala Daerah, sebahagian Balon Kepala Daerah banyak menggunakan Skenario Kedua, karena pemikirannya sama seperti Mike Tyson yaitu lawan di KO-kan pada ronde 1 kalau tidak pasti kalah. Tetapi bagi Balon Kepala Daerah yang memilih Skenario Tukang Pangkas, bila masuk ke Putaran Kedua, akan lebih memilih Strategi Koalisi dan ini sangat memungkinkan sebab prilaku santun yang dilakukan pada ronde pertama tidak akan menyakiti balon lain yang kenyataannya kalah pada ronde pertama dan ini tidak dapat dilakukan balon kepala daerah penganut Skenario Urat Syaraf, karena banyak yang sakit hati. Tentu saja, balon Kepala Daerah yang menerapkan Skenario Urat Syaraf bakalan menjadi lawan-lawan balon kepala daerah lainnya yang kalah pada putaran pertama. Logikanya, bila saja koalisi dapat dilakukan oleh seorang Balon Kepala Daerah yang masuk ke Putaran atau Ronde Kedua Pilkada, pendukung Balon Kepala Daerah yang kurang beruntung pada Ronde pertama tentu masih loyal mendengarkan semangat baru yang diucapkan balonnya. Bila ini mampu dijajaki dan disusun dalam sebuah Koalisi, biasanya menjadi peluang besar sebagai pemenang dalam Pemilihan Kepala Daerah. Bangunan Koalisi tentu saja dengan berbagai uraian kesepakatan bila Balon yang didukung nanti menang. Namun panjang cerita tentang Koalisi, pada pertarungan Ronde kedua Pemilihan Kepala Daerah, dalam rentang waktu yang sangat singkat menuju tanggal pencoblosan, satu-satunya strategi penting yang mampu menghantarkan urutan pertama Kapal ke dermaga tujuan. Sejatinya, berkacalah dengan Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila, dan optimislah berprestasi. ( Penulis : Sekjen IKADIK-PP Dairi/P.Bharat – www.rhgmsi.blopgspot.com)

2 comments :

Semangatlah........ said...

Saya setuju dengan Sistem Pangkas Rambut, dengan demikian apa yang kita perbuat sangat jelas untuk kesejahteraan masyarakat. Jadi apapun yang dikehendaki rakyat merupakan kegiatan yang akan dilaksanakan kdh terpilih. Oleh karena itu, sang tukang cukur harus-harus pandai bagaimana menyenangkan rakyat. (Muji-08)

Nyante Aza Lae said...

sukses dengan "turba"!