ROBERT HENDRA GINTING, AP, M.Si

Thursday, 23 April 2009

MENGURAI BIROKRASI LATAH

PADA suatu masa, lawakan Eko Patrio muncul menggema pada ucapan lucu yang keluar spontan ketika Parto mencubitnya. Ucapan spontan ini disebut latah. Selain kata-kata latah yang keluar ada juga tingkah laku latah yang sering berulang terjadi tanpa disadari. Mpok Atik seorang comedian juga, katanya mengidap penyakit latah. Di suatu acara saat pembawa acara tiba-tiba berteriak “tembak…tiarap” maka terlihat Mpok Atik spontan mengatakan “dor…dor…dor” lalu tiarap berbaring menelungkup di panggung acara. Ada juga latah lainnya seperti penderita kleptomania yang suka mengambil barang-barang orang lain (mencuri) tapi sebenarnya cenderung ia tidak membutuhkannya, hanya karena latah saja... Dalam konteks penyelenggaraan birokrasi atau urusan-urusan pemerintahan, paling tidak ada tiga pokok pemikiran latah. Mencoba mengintip berbagai kelatahan dalam proses birokrasi pemerintahan. Ketiga hal itu seperti Disiplin Kerja yang Latah, Kuantitas Kerja yang Latah dan Kualitas Kerja yang Latah. DISIPLIN KERJA, LATAH. Disiplin dimaknai dalam kata taat peraturan atau ketentuan yang berlaku. Kelatahan muncul saat pimpinan ingin menegakkan peraturan itu. Kecendrungan yang terlihat, aparat birokrasi atau yang dikenal dengan birokrat “menggerutu”. Sebahagian mampu mengikuti irama dan model pimpinan namun menjadi kesulitan luarbiasa bagi yang lainnya. Ketika complain mereka di evaluasi, jawaban yang muncul “Dulu juga seperti ini biasanya, kok sekarang….”. Praktek dilapangan, Apel Pagi dan Apel Sore, atribut seragam dinas, kemudian pemenuhan untuk berada di ruangan kerja selama jam kantor tetap menjadi latah mengikut kebiasaan dulu yang tidak sesuai aturan. Inilah kelatahan disiplin kerja yang acapkali digemari kalangan birokrat. KUANTITAS KERJA, LATAH. Makna kuantitas adalah jumlah. Birokrasi cenderung latah dengan praktek hitung-hitungan “tetesan keringat” yang dikeluarkan jika melakukan pelayanan, baik pelayanan terhadap sesame birokrat maupun masyarakat. Kedua objek pelayanan birokrat ini memadu 2 hal mengakibatkan munculnya latah. Adanya pengalaman masa lalu yang disaksikan dan atau turut dilakoni memotivasi sebahagian aparat birokrat keenakan mempraktekannya juga. Kalaupun kerjaan segudang, butuh waktu penyelesaian cepat, namun ketika bel tanda jam kantor usai atau saat jarum jam tangan menunjuk angka pulang kantor, secepat itu pula beranjak. Hal lainnya, pelayanan birokrasi dilakukan lembur penuh semangat karena objek pelayanan seperti aparat dan masyarakat ikut mendemonstrasikan rupiah melalui amplop putih. Inilah model latah bentuk lain yang merugikan konsep pembangunan berkelanjutan. KUALITAS KERJA,LATAH. Kualitas sama artinya dengan mutu atau kualifikasi suatu benda atau perbuatan. Banyak orang harus memilij kualitas yang baik walau kadang harus mengeluarkan biaya lebih. Demikian juga makna kualitas kerja di birokrasi. Kejenuhan kerja plus lingkungan kerja yang monoton membosankan kadang membuat birokrat bosan kemudian mencari ketenangan di luar kantor pada jam kerja. Birokrat cerdas memotivasi diri melalui games atau internet di kantor, merapikan arsip, menyusun proyeksi dan rencana kerja dan sebahagian hanya menggosip. Pertanyaan yang sering muncul model kerja yang dilakukan birokrat malas seharusnya belajar dari tukang urut atau kusuk. Walaupun kepala yang sakit tetapi pasti tangan dan kaki juga di kusuk atau di urutnya. Jadi pencerminan di birokrasi, saat permasalahan muncul baik yang pokok maupun yang dinilai memiliki peluang menimbulkan permasalahan seyogyanya diselesaikan dan diantisipasi. Kelatahan yang terjadi, kecendrungan alam birokrasi masih enggan mencurahkan kemampuannya menterjemahkan tugas pokok dan fungsinya dalam pelayanan kepemerintahan. Ketiga kelatahan ini sangat mengganggu tatanan birokrasii pemerintahan yang mengemban amanat pemberian pelayanan maksimal kepada masyarakat termasuk kepada sesame aparatur. Bila kelatahan birokrat masiih terpelihara dengan baik tanpa adanya upaya pengikisan, akanlah sulit menjadikan pemerintahan itu baik.

1 comment :

STAFF.MEDAN said...

keren bang, muanteb lah abang satu ini.. sukses yah bang