ROBERT HENDRA GINTING, AP, M.Si

Thursday, 18 September 2008

Senjata Terakhir Memenangkan Pilkada

Rejeki, jodoh dan kematian keputusannya berpusat kepada Pencipta Alam Semesta. Tidak seorangpun yang mampu menterjemahkan masa depan, ketika sosok perempuan briliant seperti Megawati Sukarno Putri, menjadi Presiden Republik Indonesia. Siapa yang menduga Kapten CZI. Anumerta Piere Tendean (Pahlawan Revolusi Indonesia) mau mengambil resiko mengaku sebagai Jenderal A.H. Nasution, untuk di bunuh, namun itulah rahasia Tuhan. Tidak salah, mengawali pemikiran artikel ini memandang keagungan Yang Maha Kuasa agar kita manusia tetap mendekat kepada-Nya.Pemilihan Umum Kepala Daerah singkat saja Pilkada, kata orang adalah bukan segalanya untuk menjadi alasan memutuskan berbagai hubungan kekerabatan, termasuk kekeluargaan. Bagi sebahagian orang, menjadi kepala daerah adalah cita-cita diluar lingkaran motivasi yang mengakarinya sebagai bentuk puisi membangun daerah. Namun, acapkali perjalanan melelahkan menempuh berbagai proses sebelum itu harus kandas di awal, pertegahan ataupung penghujung jalan. Kandas di awal karena tidak mampu menghadirkan sebuah ‘kapal’ apakah kapal pesiar, kapal rusak atau kapal perang untuk berlayar. Kandas dipertengahan disebabkan kalah bersaing dengan kandidat lainnya, dan kandas di penghujung jalan diterpa kasus dan kasus. Ketikka babak akhir penentuan balon kepala daerah dihembuskan, mulailah kapal-kapal PILKADA berlayar dengan nomor start yang berlainan pula. Masing-masing memiliki prioritas alamat yang dituju, seperti rumah ibadah, tokoh masyarakat berpengaruh, dan ada juga bersimpuh di hadapan orang-orang gila di jalanan. Sama seperti bermain sepakbola, tim solid bila memiliki pelatih dan pemain yang pintar-pintar termasuk strategi jitu. Ada penjaga gawang, ada back kiri, back kanan, pemain tengah, peyerang, suporter dan ada juga pawang di pinggir jalan. Masing-masing harus disiplin mengetahui tugas pokok dan fungsinya. Dapat dibayangkan kalau ada beberapa pemain yang merasa juga sebagai penjaga gawang, tentu gawat darurat. Olah pikir terhadap sebuah proses yang dinamakan Pilkada, sebelum saat pencoblosan atau pemungutan suara, paling tidak ada empat hal yang harus diperhatikan balon kepala daerah jika tidak ingin keringat kampanye yang sudah dikeluarkan selama beberapa bulan atau tahun sia-sia. Pertama : Debat Publik. Biasanya, selain momen resmi, para kandidat dipertemukan dalam sebuah acara debat publik sesama balon kepala daerah membedah visi misinya. Ada 2 kekuatan yang berbahaya dalam debat ini, kesatu : balon kepala daerah yang lainnya dan kedua: nara sumber atau yang bertugas sebagai penguji visi misi. Nuansa debat publik sebenarnya mengukur kedalaman pikiran balon kepala daerah termasuk kemampuan penguasaan diri terhadap visi dan misi yang di kantonginya. Dibeberapa kasus, debat balon kepala daerah yang pintar dan merasa pintar, dikuliti balon kepala daerah lainnya karena panitia atau pendebat / nara sumber memihak kepala salah seorang balon kepala daerah. Soal yang akan ditanyakan dibuat sulit sedemikian rupa plus bahasa Inggris yang ribet, sehingga diprediksikan balon kepala daerah yang ditanya pasti kebingungan. Sementara itu, soal dan kunci jawaban telah diberikan kepala oknum balon tertentu. Kadang ini tidak disadari, akhirnya balon kepala daerah dipermalukan kemudian simpati pendukungnya luntur seketika. Kedua : Money Politik. Kata orang, biasanya dipagi hari sebelum proses pencoblosan ada serombongan orang yang membagi-bagikan uang ke rumah-rumah penduduk dan meminta agar jagoannya di pilih, nanti. Kecendrungan praktek seperti ini tidak kenyataannya menjadi tidak efektif bila akar rumput yang tumbuh di halaman rumah masyarakat itu sudah kuat dan terpupuk dari jauh waktu sebelumnya. Maunya uang itu diberikan kepada para pendukung yang sebelumnya sudah terdata apik dengan maksud sebagai uang materai agar sah memilih balon kepala daerah dimaksud. Ketiga : Menurunkan Pasukan Jelek. Namanya saja pasukan jelek, konotasinya dipekerjakan untuk menjelek-jelek-kan balon kepala daerah lainnya. Format yang digemari untuk diadopsi seperti demonstrasi, menciptakan kasus-kasus yang bersentuhan dengan hukum, mengorek-ngorek masa lalu balon kepala daerah. Kini, proses pembusukan dan pembunuhan karakter ini lebih kreatif, tidak lagi dengan membagi-bagikan selebaran di tengah malam buta ketika gerhana bulan dan mati listrik, tetapi mencoba meracuni alam pers yang seyogyanya independent. Pemberitaan aksi dan memuat komentar tidak berimbang termasuk minim konfirmasi dengan pejabat berwenang. Keempat : Kabinet Bayangan. Orang atau kelompok masyarakat yang pemikirannya terdepan bila jati dirinya tidak diwakili oleh sepasang kandidat balon kepala daerah dan wakil kepala daerah, biasanya akan melihat rancangan kabinet balon itu. Rancangan kabinet itu diterjemahkan sebagai susunan pejabat di Pemerintahan Daerah, bila sang balon kepala daerah terpilih. Salah satu bentuk kontrak politik ini merupakan upaya akhir yang jika ditarik benang merahnya, mencoba menyeret PNS ke era politik praktis. Sasaran akhir, sang kandidat pengisi kabinet seperti sebagai Sekda, Kepala Dinas, Badan maupun Kantor di Pemerintahan Daerah harus memilih. Tidak ada kata abstein. Kata orang, hidup harus memilih tidak hanya bila membeli baju baru, kadang ke WC saja kita harus memilih yang mana yang tidak berbau. Kelompok masyarakat yang mewakili suku atau agama atau golongan biasanya menumpahkan harapannya kepada balon yang dianggapnya memiliki khans besar menang, dengan berbagai catatan-catatan bagi sang balon kepala daerah. Keseluruhan coretan ini, tidaklah ada pengaruh apa-apa bila sosok seorang Negarawan telah ditemukan masyarakat dalam diri seorang balon kepala daerah. Negarawan itu yang mampu menyentuh hati terdalam dengan kata serta perbuatan, tidak dapat di wakili uang. (Penulis : Sekjen. IKADIK- Pamong Praja Dairi/P.Bharat – www.rhgmsi.blogspot.com ).

4 comments :

Frenavit Putra said...

Waduh... ngomongin politik ya??? Wes No comment ajah lah... hi..hi.....

Anonymous said...

wah bongkar-bongkar rahasia nih....

Nyante aja lae !!! said...

Bhinneka Nara eka Bhakti !!

Banyak orang yang tidak berfikir dengan hati nurani, semua dihalalkan, semua dianggap benar dan tepat untuk mencapai suatu tujuan. Jika hal ini tetap dipelihara dan dipertahankan...gawatlah demokrasi kita

Ati said...

Seharusnya kemenangan seseorang dalam Pilkada bukan tujuan akhir, ada tujuan yang lebih mulia yaitu bagaimana membuat rakyat yang dipimpinmya lebih sejahtera. Menjadi Kepala Daerah hanya alat agar lebih leluasa memainkan peran untuk mencapai tujuan mulia tadi, jadi tidak perlu membabi buta menghalalkan segala cara untuk meraih jabatan tersebut.