ROBERT HENDRA GINTING, AP, M.Si

Sunday, 23 November 2008

Saudaraku Purna Praja....

Banyak tentu pengalaman-pengalaman dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara dan abdi masyarakat di Negara Tercinta Indonesia ini. Sebagai alumni sekolah yang khusus digembleng memahami pemerintahan dalam arti luas, generalis dengan keterpaduan bersama masyarakat, tentu ada suka dan duka. Sudah banyak teman yang menjadi Lurah, Camat dan sudah ada yang menjadi Asisten serta Kepala Dinas. Lebih fantastis lagi, ada juga alumni STPDN/IPDN selain lulusan APDN yang sudah menjadi Wakil Bupati 2 orang. Tulisan di bawah ini saya kutip dari website Pamong Praja www.pamongpraja.com untuk menjadi renungan pengabdian kepada Bangsa dan Negara Indonesia. Saudaraku Purna Praja.... Oleh Ati : Latumairissa Kemarin (30/10/2008) saya mengunjungi teman yang bertugas di salah satu Kabupaten di Propinsi Banten, sebut saja namanya Napi. Dia baru sekitar tiga minggu menghirup udara bebas setelah menginap di "Hotel Prodeo" selama 1 tahun dalam kasus distribusi raskin. Saya cukup dekat dengannya, kami biasa bercanda dan saling goda satu sama lain. Namun pada sore itu saya menahan diri untuk menggodanya yang terlihat lebih tua dari biasanya, khawatir dia masih sensitif. Setelah berbasa basi sebentar, menanyakan khabar anak2 dan isterinya, saya tak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi hingga dia harus menjalani hukuman. Dalam menjalankan tugas, kita terikat pada satu sistem yang mangharuskan kita terlibat dalam sebuah kegiatan apalagi keharusan tersebut sudah diperkuat dengan Surat Keputusan Pimpinan. Dalam pelaksanaannya sering kali kita mendapat perintah lisan yang tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dan seringkali pula dengan beragam alasan, sebagai bawahan kita tidak dapat menolak kebijaksanaan yang sesungguhnya adalah sebuah penyelewengan. Itulah yang terjadi pada teman saya Napi, dia diminta untuk menandatangani tandaterima distribusi raskin sebanyak 2 bulan yang sebenarnya tidak dia terima. Dia tidak sendiri, ada sekitar 27 orang yang melakukan hal yang sama. Kadang-kadang saya berfikir hukum hanya mengejar orang yang bisa dikejar, yang paling lemah itulah yang mendapatkan sanksi. Dengan bebagai pertimbangan, politis, wibawa pemerintah dan menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara negara, maka hanya teman saya Napi dan atasannya yang harus menebusnya dibalik terali besi. Saudaraku Purna Praja.... Tentu kita ingin selamat dalam manjalankan tugas sebagai abdi masyarakat hingga diujung pengabdian, barhati-hatilah. Sebagian besar penyalahgunaan wewenang terjadi dengan motif uang, kita harus bisa mngendalikan napsu ingin memiliki materi secara berlebihan. Saat kita memilih PNS sebagai ladang hidup kita, kita sudah bisa meperkirakan besar penghasilan yang bisa kita terima setiap bulan. Saya tidak bermaksud mendukung salah satu partai yang sering mengkampanyekan hidup sederhana, namun penghasilan seorang PNS memang hanya cukup untuk hidup sederhana. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari apa yang terjadi pada teman saya, Napi, dan semoga Tuhan selalu melindungi dan membantu kita dalam melaksanakan tugas. Salam, Ati Latumairissa

No comments :