ROBERT HENDRA GINTING, AP, M.Si

Friday, 26 December 2008

Tolong Kembalikan Tangan Ita

Gadis kecil berusia empat tahun itu sedang asyik mencoret coret tanah di pekarangan rumahnya, sementara pembantu yang menjaganya menjemur pakaian. Beberapa waktu kemudian, ita si gadis kecil ini menemukan paku berkarat dan memakainya untuk menggambar. Kemudian Ita berjalan ke garasi dan mulai menggoreskan paku itu di sedan hitam yang bari dibeli papanya. Dapat dibayangkan apa yang terjadi dengan sedan itu. Sore harinya, ketika papa dan mamanya pulang, dengan bangga Ita menarik tanganpapanya untuk memperlihatkan hasil karyanya di garasi. Pemandangan di garasi itu dengan cepat memompa emosi papanya dan karena lepas kendali papanya memukuli tangan Ita dengan mistar... "Ampun Pa, ampun Pa" itulah jeritan yang keluar dari mulut Ita tapi jeritan itu tidak dihiaraukan papanya. Setelah merasa puas, papanya berhenti dan menyuruh pembantu untuk mengurusi Ita yang baru saja didisiplin tanpa pembelaan sang mama. Tangis yang panjang melelahkan Ita dan ia pun tertidur. Ketika pembantu memandikannya, dari awal sampai selesai mandi Ita menangis karena merasa perih dikedua tangannya. Ketika sipembantu memberitahukan majikannya, mereka hanya menyuruhnya untuk mengoleskan salep. Keesokan harinya mereka bekerja seperti biasa, sementara tangan Ita mulai membengkak. Saat sipembantu menelepon nyonyanya, ia kembali diperintahkan untuk mengoleskan salep dan memberi obat demam. Hari berganti dan suhu badan Ita mulai naik, namun kedua orang tua tidak serius mengobati tangan Ita sampai suatu hari suhu tubuh Ita sangat tinggi. Dengan panic merekapun membawa Ita ke rumah sakit. Diagnosa dokter. Ita demam diakibatkan oleh luka-luka di tangannya. Setelah diopname selama satu minggu, akhirnya dengan berat hati dokter memberitahukan kondisi Ita. "Tangannya yang bernanah telah membusuk. Untuk menyelamatkan Ita maka kami harus mengamputasi tangannya." Dengan derail air mata dan penyesalan yang tak habisnya, Papa dan Mama Ita menandatangani surat persetujuan. Singkat cerita, Ita dioperasi dan setelah siuman dengan menahan rasa sakit di tangannya ia berkata, "Pa, Ita nggak akan nakal lagi. Ita sayang sama Papa, sama Mama, tapi Pa, tolong kembalikan tangan Ita, Kalau nggak pinjam aja Pa, Ita janji nggak akan mengulanginya, Ita nggak akan nakal lagi. Ayo Pa, kembalikan tangan ita. Semua orang yang ada diruangan itu membisu, hanya isak tangis dan derai air mata yang berbicara mewakili kesedihan dan penyesalan mereka. Efek yang ditimbulkan oleh amarah dan kehilangan kendali adalah rasa sakit dan rasa bersalah. Dalam sebuah keluarga, kesalahan seorang anak berpotensi meningkatkan emosi orang tua, namun seharusnya orang tua mempersiapkan diri dengan penguasaan diri yang tinggi sehingga dapat mendidik anaknya tanpa meninggalkan luka-luka batin pada anaknya. Kolose 3:2 - Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. Efesus 6:4 - Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. DOA: Bapa, aku membutuhkan hikmat, kesabaran dan kasih untuk membimbing anak-anakku, karena itu perlengkapi aku. Aku memintanya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin. Kata Kata Bijak: Panas hati hanya akan menyeret kita jatuh kedalam perbuatan jahat dan penyesalan. (Dikutip Dari milis Dairi Satu Hati)

No comments :