ROBERT HENDRA GINTING, AP, M.Si

Friday, 17 April 2009

KOALISI : SIAPA PRESIDENNYA ?

PERTARUNGAN Partai melalui calon calon legislatifnya pada Pemilihan Umum legislatif yang baru saja digelar sungguh menegangkan. Partai Demokrat melalui sosok SBY ternyata mampu menjadi yang terbaik di Indonesia. Jika dilihat dari persentase suara yang diperoleh, Partai Demokrat sebenarnya tidak perlu berkoalisi untuk menggapai ambang batas persentasi Partai atau koalisi agardapat mengajukan calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Persetase 20 yang didapatkan membawa Partai Demokrat sebagai satu satunya Partai yang tanpa berkoalisipun sudah memenuhi syarat mengajukan Jagoan Calon Presidennya pada Pemilihan Umum Presiden mendatang. Fakta ini akhirnya mampu merangsang pimpinan partai bereaksi krasak krusuk mencari pasangan koalisi. Ada banyak alternatif Partai yang akan berkoalisi dan tentu kajian koalisi... ini sendiri dengan pertimbangan dan pandangan poltik yang di lihat dari sisi untung rugi Partai politik para partai yang berkoalisi plus rasa maluJadi tidaklah heran bila di televisi para Ketua Partai politik asik kunjung mengunjungi satau sama lain dengan alasan membicarakan langkah selanjutnya melihat proses Pemilu Legislatif. Padahal, pembicaraan terfokus pada tawar menawar. Terserahlah tawar menawar jabatan menjadi Capres atau Cawapres ataupun kompensasi jabatan menteri sekian persen serta pengganti uang kampanye yang keluar. KOALISI PARTAI DEMOKRAT + GOLKAR : Jika koalisi ini terbangun maka mau tidak mau Golkar harus mengaminkan diri sebagai calon Wakil Presiden pendamping SBY yang juga sebaga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Hal yang mustahil bila SBY melalui Partai Demokrat sang pemenang Pemilu Legislatif menjadi calon Wakil Presiden. Pada sisi ini, sepertinya perpecahan menganga di tubuh Partai Golkar, sebab sebahagian kadernya menginginkan Golkar mencalonkan diri sebagai Calon Presiden. Ego sebagai Partai besar menginspirasi sebahagian kader Partai Golkar untuk menjaga marwah atau gengsi Partai Golkar. Ketakutan yang muncul, kesolidan Partai Golkar pada saat bersamaan juga sedang mengalami ujian berat. Pembahasan pembahasan yang muncul, sepertinya sebahagian kader Partai Golkar tidak menginginkan adanya Konvensi Partai Golkar untuk menentukan Calon Presiden atau Calon Wakil Presiden. Ini bermakna, jalan mulus bagi Jusuf Kalla (JK) sebagai Ketua Umum Partai Golkar didaulat langsung menjadi Calon Presiden atau Calon Wakil Presiden. Inilah Politik. Obrolan warung kopi juga mencuat menyoroti sosok JK yang notabene bukan dari suku Jawa. Selama ini Presiden Republik Indonesia adalah orang Jawa kecuali BJ.Habibie yang sebenarnya menjadi Presiden karena adanya suksesi di tengah jalan. Menurut data yang ada lebih dari 50 persen penduduk Indonesia dari Suku Jawa dan dari sisi semangat kedaerahan dan kesukuan tentu kekuatan ini menjadi momentum kuat bagi seseorang untuk memuluskan cita citanya. Kita masih ingat disaat Akbar Tanjung (Mantan Ketua Partai Golkar) harus tersingkir dari Bursa Calon Presiden dari Partai Golkar akibat Konvensi Partai Golkar. Ini suatu hal yang menakutkan...KOALISI PARTAI DEMOKRAT DENGAN PDIP : Koalisi ini pun memungkinkan sekali untuk menang. Tapi pertanyaannya, apakah Megawati yang pernah menjadi Presiden Republik Indonesia mau turun pangkat menjadi Wakil Presiden? Padahal sewaktu Megawati jadi Presiden sosok SBY adalah "anak buahnya". Tapi dikaji dari sisi yang mewakili wanita yang memiliki pendukung banyak, sangatlah menguntungkan menggandeng PDI Perjuangan. Analisa politik yang banyak muncul, Demokrat dan PDIP tidak bakalan berkoalisi pada Pilpres, karena sepertinya PDIP tidak berminat duduk sebagai Wakil Presiden, sebab dulunya sudah Presiden. KOALISI PARTAI DEMOKRAT DAN PKS : Melalui jagoan PKS - Hidayat Nur Wahid yang sekarang menjadi Ketua MPR Republik Indonesia, dibeberapa media ditempatkan pada ranking pertama yang disukai dan diprediksikan memenangkan Pilpres. Sosok Partai Keadilan Sejahtera sebagai kekuatan besar nomor 4 sebenarnya sangat berpotensial besar bila di gandeng jika dibandingkan daya tarik SBY dengan JK. Penulis melihat SBY memiliki peluang sangat besar terpilih lagi menjadi Presiden Republik Indonesia Periode 2009-2014 bila melakukan koalisi dengan tiga alternatif diatas sehingga pemikiranpun hanya tertuju pada ketiga Partai diatas. Selain itu, ada juga peluang koalisi Partai yang mungkin dilakukan tetapi dengan berbagai pemikiran yang berbeda pula. Bila Partai Golkar berkoalisi dengan PDIP, inipun menjadi saingan berat bagi SBY, sebab sosok para pendukung partai di PDIP dan Golkar banyak yang militan dan setia sampai mati, katanya. Permasalahannya, siapa yang jadi Presiden dan siapa Wakil Presiden pada koalisi ini. JK tentu ingin menjadi Presiden demikian juga Megawati. Jika JK menginginkan Wapres, tentu pemikirannya akan lebih menguntungkan bersanding dengan SBY. Ada koalisi lain yang sebenarnya sangat membuka peluang terpilih menjadi Presiden, yaitu bersama Partai PKS. Sosok Hidayat Nurwahid memegang peranan penting pada kacamata masyarakat Indonesia. Bila Partai Golkar atau PDIP berhasil merangkulnya menjadi Calon Wakil Presiden, tentu SBY mendapat saingat berat memenagkan Pilpres. Peta politik yang tergambar, sepertinya Golkar kurang menarik dimata PKS, lihat saja ketika ada riak muncul ke permukaan yang mengatakan SBY berkoalisi dengan JK maka PKS akan menarik dukungannya kepada SBY. Jelas isyarat ini menguatkan ketidaksukaan PKS dengan Partai Golkar. Selain beberapa koalisi diatas, KOALISI Partai - Partai Papan Tengah juga sangat berpeluang memenangkan Pilpres. Koalisi PDIP, Gerindra, Hanura, PKB, PBB, dan PAN akan menjadi wujud menakutkan dalam perhelatan Pilpres jika terbangun dengan baik.

No comments :