ROBERT HENDRA GINTING, AP, M.Si

Friday, 15 May 2009

Mengintip "Perkawinan" CAPRES

CALON PRESIDEN & Wakil Presiden Indonesia sudah di deklarasikan. Berbagai prediksi dan spekulasi terjawab sudah. Tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden yaitu SBY - Budiono / Megawati - Prabowo / JK - Wiranto. Gambaran perpaduan ketiga pasangan ini melukiskan banyak kelebihan dan kekurangan masing masing. Menarik dicermati sebab sosok capres maupun wapres yang muncul adalah representasi serta akumulasi perjuangan politik setiap partai baik untuk kursi di parlemen maupun persentasi menteri kabinet. Sungguh luarbiasa penampakan tarik ulur kepentingan politik partai demi meraih sebuah kekuasaan. Melongok pasangan capres dan wapres, beberapa kajian.. merdeka sudah tergambar dari masing masing koalisi dan pasangan. Komentar menarik dilontarkan Direktur LembagSurvey Indonesia (LSN) yang menyebutkan ketiga pasangan capres itu memiliki “Prosesi Pernikahan" yang berbeda-beda. Pasangan SBY-Budiono disebut "Kawin Tanpa Restu", Megawati-Prabowo disebut "Kawin Paksa" dan JK-Wiranto disebut "Kawin Suci". Suka atau tidak, lakon ketiga pasangan Capres jelas dipertontonkan dan itulah kesimpulannya. PASANGAN SBY - BOEDIONO. Komentar di media massa, pasangan “SBY BERBUDI“ ini disebutkan pasangan "Kawin Tidak Direstui". Tanpa bisa dipungkiri, dibalik kekuatan persentase koalisi perolehan suara Pemilu Legislatif yang mencapai 46,79% dengan jumlah kursi DPR-RI 314 dari 560 Kursi, (Perolehan Suara Demokrat, PAN, PPP, PKS, dan PKB) menguasai lebih setengah suara di parlemen. Secara matematika, bila rakyat Indonesia yang pada Pemilu Legislatif memilih koalisi partai pendukung SBY ini,maka jumlah 46,79% akan membawa pasangan capres SBY-Boediono sebagai pemenang dalam satu putaran saja; apalagi dengan kekuatan 23 partai pengusung SBY. Prediksi dibaca melihat hasil Pemilu Legislatif dan bukanlah hal yang mustahil bila kondisinya berubah. Alasannya cukup masuk logika, pada masa pemilihan umum legislatif, masing-masing caleg dituntut berjuang untuk pintar-pintar di depan masyarakat agar dipilih dalam kotak pemungutan suara. Setiap caleg memiliki kekuatan emosional sendiri yang mampu membangkitkan berbagai strata masyarakat yang akhirnya memilih dirinya. Tetapi bila pada pemilihan umum presiden, hanya sosok calon presiden dan calon wakil presiden yang menjadi fokus interest. Walaupun disebut "Kawin Tanpa Restu" dari partai pendukungnya, tetapi episode sinetron yang diperankan setiap pimpinan partai yang ikut berkoalisi, tetap menebar senyum. Inilah gaya politik yang acapkali di dilakukan dan sepertinya SBY atau Demokrat tutup mata. Tidak bisa disangkal, Demokrat lah yang menjadi nahkoda sekaligus kapten kapal dalam koalisi ini, jadi apapun hasrat keinginan penumpang yang ikut dalam kapal itu, sang nahkoda tetap berwenang dan memiliki kuasa penuh menjalankan kapal kemanapun. Bila sang penumpang kapal tidak setuju saat sudah berlayar di "tengah laut", adalah mustahil mereka akan lompat ke "laut" sebab ada banyak "ikan hiu" serta ujung pantai tanpa batas akan melenyapkan mereka dari panggung politik. Apapun peran yang sedang dilakukan para partai pendukung SBY-Boediono, pada akhirnya mereka tidak ada pilihan harus mengaminkan apa kata SBY dengan harapan munculnya kesepakatan dan perhatian lebih ketika pembagian kue kabinet, nanti. Peluang memenangkan Pilpres didapatkan bila pasangan ini lebih mengintensifkan kampanye dan pendekatan kepada pemilih di belahan indonesia timur yang banyak di kuasai JK juga Megawati. Pasangan SBY-Boediono adalah pasangan Jenderal Bintang 4 penyandang gelar Doktor dari Institut Pertanian Bogor serta Boediono, seorang ekonom dari kalangan kampus yang menyandang gelar Guru Besar atau Profesor. Dari dua pasangan Capres lainnya, hanya pasangan ini yang merepresentasikan dirinya sebagai bahagian dari strata masyarakat kalangan kampus atau universitas. Peluang mereka mendapat pembelaan dari kalangan pendidikan dan profesional dipandang lebih besar dari dua kandidat lainnya. Demikian juga sosok SBY, seorang Jenderal Bintang 4 yang berprestasi luar biasa sejak pendidikan di AKABRI. Menjadi modal besar meraih suara dalam keluarga besar TNI termasuk kalangan pendidikan yang memiliki hubungan emosial dengan Institut Pertanian Bogor tempatnya memperoleh gelar Doktor. Selain itu bila dilihat dari hobbynya yang suka main gitar, ngarang lagu dan menyanyi tentu sedikit banyak menimbulkan simpati masyarakat seni atau seniman Indonesia. Kemudian cerita ringan bagi ibu-ibu, sosok seorang SBY yang tampan, berpenampilan sederhana dan tidak pernah marah atau arogan katanya akan mampu meninabobokkan nyonya-nyonya rumah penguasa dapur masakan atau mungkin juga ABG (anak baru gede) tertarik bersamanya. PASANGAN MEGAWATI - PRABOWO. Prediksi sebahagian kalangan yang menyebutkan hanya “MEGA PRO” yang akan mampu menandingi kharisma dan kekuatan SBY-Budiono sebenarnya sah-sah saja walau itu mengecilkan peluang JK-Wiranto. Koalisi PDIP-GERINDRA (juga PKB versi Gus Gur) pada perolehan suara pemilu legislatif memperoleh kursi sebanyak 121 kursi DPR . Pasangan ini disebut "Kawin Paksa". Istilah ini didorong dari ego partai yang menginginkan kedudukan sebagai calon presiden. Awalnya Prabowo mantan Komandan KOPASSUS ini memproklamirkan dirinya sebagai calon presiden sejak 3 tahun lalu. Tetapi sepertinya ia harus mengalah menjadi calon wakil presiden. Koalisi ini sebenarnya adalah koalisi yang luar biasa. Dikatakan luarbiasa, sebab ada banyak cerita masa lalu yang sebenarnya sangat mustahil mampu merekatkan kedua generasi ini. Kita masih ingat bagaimana polemik antara mantan Presiden Soekarno dan Mantan Presiden Soeharto dan imbasnya kepada Megawati beserta keluarga besar Bung Karno dan PDI Perjuangan. Walau tidak secara langsung, namun Prabowo adalah menantu mantan Presiden Suharto yang tentunya masih memiliki benang merah dengan rezim kepemimpinan mantan Presiden Soeharto. Bila ingin memenangkan perhelatan Pilpres ini, beberapa hal prinsip harus lebih intensif di gali dan dikembangkan untuk meraih dukungan masyarakat. Melihat sosok Megawati menempatkan dirinya sebagai vote getter khususnya di kalangan perempuan dan pecinta kharisma mantan Presiden Soekarno. Kekentalan Soekarnoisme dalam diri Megawati dan keterwakilan gender akan berubah menjadi kekuatan luar biasa bila Megawati mampu melekatkan pengarusutamaan gender dalam pembangunan di Indonesia. Sepertinya hanya dua itu yang dimiliki sang Megawati Soekarno Putri. Justru pendampingnya, Prabowo-lah yang harus lebih mampu membangkitkan kembali alam pikiran rakyat Indonesia yang pernah selama 32 tahun dipimpin Mantan Presiden Soeharto. Tidak dapat dipungkiri, Prabowo mampu bertindak cerdas meniru gaya Soeharto yang bergerak untuk wong cilik di sawah. Melalui Himpunan Kerukunan Tani Indoesia, sebuah organisasi spesial petani ternyata mampu memberikan 4.646.406 suara untuk Prabowo. Bila konsep ini lebih dipertajam dan gambarkan jelas kepada masyarakat pedesaan, sosok muda bersahabat dan penuh ketegasan ini akan sangat banyak membantu Megawati menuju RI-1. PASANGAN JK-WIRANTO. Pasangan “JK WIN” ini disebut “Kawin Suci” dengan alasan tidak ada rebutan jadi presiden dan tidak ada cerita tarik ulur kepentingan. Kedua tokoh Indonesia ini berasal dari kalangan pengusaha dan militer. JK adalah kader Golkar yang juga Ketua DPP. Partai Golkar menggantikan Akbar Tanjung dan Wiranto juga kader Golkar pensiunan Jenderal TNI yang mencuat ketika Konvensi Piplres 2004, Partai Golkar memilihnya. Koalisi Partai Golkar- Hanura menghasilkan suara dengan perolehan kursi 125 di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Beberapa pengamat social, politik dan pemerintahan geleng-geleng kepala tercengang dengan langkah politik Golkar yang terkesan “dilecehkan” Demokrat. Sebelum Pemilu Legislatif, SBY maupun Demokrat memberikan lampu hijau kepada JK / Golkar untuk melanjutkan duet pemerintahan sekaligus membangun kekuatan di parlemen yang kokoh. Sayangnya fungsionaris terlena dan gemar mengekspose kesepakatan yang belum pasti itu seolah-olah benar nanti terwujud. Cerita terus berkembang dan politisasi sebahagian kader partai Golkar ambisus melengkapi muncul serta berkembangnya friksi atau sekat-sekat dalam tubuh Partai Golkar. Sosok JK dari kalangan pengusaha konglemerat tentu memiliki khans besar memenangi Pilpres bila mampu menyatukan kembali persepsi plus dukungan dari dalam partai kemudian meyakinkan massa akan kemampuannya sebagai Presiden, nanti. Kawasan Indonesia Timur dikuasai oleh Partai Golkar yang merupakan basis kader militan. Entry point meraih kemenangan Pilpres khususnya menghempang SBY-Boediono adalah, dari sisi kesukuan, dominan dukungan bagi SBY-Boediono pada kelombok suku Jawa apalagi pasangan SBY-Boediono satu kampong, sementara etnis lain sedikit banyak memiliki semangat kedaerahan lain yang lebih mengharapkan konfigurasi atau pelangi kepemimpinan, walau ini tidak bisa demikian saja menjadi barometer indicator kemenangan. Walaupun sosok Wiranto katanya “ber-cela” walau tak terbukti hakekatnya orang Golkar juga, bila senioritas kepangkatan dan angkatan dalam keluarga besar TNI dapat digalang dengan baik, akan menjadi kekuatan besar mengalahkan kharisma SBY maupun Prabowo. Sebahagian pengamat politik berbicara di media elektronik maupun surat kabar, siapapun pendamping SBY tidaklah penting sebab sosok SBY sendiri akan mampu membawa kemenangan menjadi Presiden terpilih apalagi perolehan suara yang signifikan dari Partai Demokrat. Pendapat ini sah-sah saja, namun perlu juga membuka pikiran melihat di tahun tahun sebelumnya, Partai Golkar dan PDIP pernah meraih suara terbanyak di pemilu legislative pada beberapa tahun lampau, namun tidak mampu menghantarkan calon partainya menjadi Presiden. Semua pasangan calon presiden dan wakil presiden ini belum dapat diprediksi siapa yang akan menarik hati mayoritas masyarakat Indonesia. Namun bila kepiawaian plus etika politik tingkat tinggi yang santun diterapkan dengan baik, siapapun dapat menjadi kepala Negara sekaligus kepala Pemerintahan Republik Indonesia periode 2009-2014. Spekulasi-spekulasi politik setidaknya harus lebih cermat disikapi dan di kelola, hingga kelemahan dapat dimanfaatkan menjadi kekuatan pemenangan

1 comment :

arpegya said...

siapapun presidennya... minumnya tetep teh botol sosro...uuppppzzzz... ga boleh ada sponsor... wakakaka.