ROBERT HENDRA GINTING, AP, M.Si

Tuesday, 17 June 2008

Alkisah Sinetron Pejabat Tidak Loyal

Machivelli, seorang filsuf ternama Francis mengatakan “Mayoritas terbesar manusia merasa puas dengan penampilan sekan-akan itu semua realitas, dan lebih sering terpengaruh oleh hal-hal yang tampak dibandingkan dengan apa yang sesungguhnya”. Terlena dan terjebak, mungkin cenderung menimpa orang-orang penting birokrat seperti gubernur, bupati maupun walikota. Saat kekuasaan berada ditangan, uang dan mesinnya ada, langit dan bumi-pun berupaya dengan segala cara mendekat. Sebuah Ilustrasi ringan, seseorang yang berkuasa memiliki uang sekelas pegawai rendahan ketika menikmati makan siang di warung pinggir jalan; penghormatan akan diterimanya sekelas tukang bakso, mie ayam dan nasi campur. Lingkungan yang memandangnya hebat sekelas tukang becak yang ingin ditumpangi saat selesai makan, pengemis yang berharap uang receh, tukang semir sepatu, gelandangan yang berharap sisa makanan yang dibuang untuk mengisi perut serta anjing dan lalat yang mengintai ada nasi dan tulang yang jatuh di lantai.

Tetapi jika seorang berkuasa sekelas pejabat tinggi seperti gubernur, bupati atau walikota (bos) , saat makan di restoran hotel mahal lantai 100; penghormatan yang diperoleh levelnya jauh berbeda seperti penjagaan security, pejabat bawahan yang berlomba-lomba mentraktir, pejabat bawahan dilantai 1 yang kawatir memegang hanphone menunggu siapa tahu sang bos membutuhkan tusuk gigi atau tisu untuk diantar, rekan bisnis dan bawahan yang letih menganggukkan badan serta kepalanya tanda siap, setuju dan menunggu perintah, dan pelayan restoran yang cantik, wangi serta enak di pandang mata. Sangat disayangkan, kondisi demikian konon menutup kerja otak bos untuk menganalisa ketulusan orang-orang yang berada disekelilingnya, tadi. Siapa yang tahu, apakah security yang menjaganya tidak bosan karena gaji kecil tidak sebanding, staf yang mandi keringat keletihan mendongkol dan mengumpatnya, pinggang dan kepala staf/rekan bisnis yang sakit karena terlalu sering harus mengangguk atau membungkuk penghormatan, atau wanita cantik pelayan restoran yang bosan karena melayani permintaan kita yang banyak macamnya.

Mark Twain, seorang pebisnis berhasil Amerika mengatakan “Selalu ada sesuatu tentang sukses Anda yang tidak menyenangkan bagi teman terbaik “. Oleh karenanya, tuntutan untuk tidak 100% mempercayai staf sudah selayaknya diilhami sebagai kata kunci seperti dipraktekkan seorang guru karate bahkan dukun, yang tidak pernah memberikan seluruh ilmu kepada muridnya, menjaga bila muridnya tidak loyal bahkan ingin membunuhnya. Di alam birokrasi seperti Pemerintah Daerah, loyalitas kepada pimpinan, sesungguhnya seperti membuat kue bolu. Banyak bumbu, resep tambahan, perlengkapan memasak, kesabaran dan api yang cukup. Artinya, untuk sebuah loyalitas atau kue bolu, terjadi perpaduan berbagai unsur, timbal balik dan menyatu serta saling memahami sesuai porsinya. Ketika pemimpin diacuhkan oleh anak buahnya atau dikenal istilah anak buah yang tidak loyal, banyak perkara melatarbelakangi munculnya opsi pembangkangan dibanding kesetiaan. Sediknya ada 8 perkara menelanjangi ketidak loyalan bawahan terhadap seorang pemimpin, yaitu karena kebijakannya benar tapi merugkan dirinya, mendukung lawan pimpinan, tidak berbuat apa apa, ingin menjerumuskan pimpinan, jabatan pimpinan akan berakhir, kebijakannya salah, pesan sponsor dan tidak mendukung pimpinan karena sakit hati. Tidak jauh berbeda dengan yang ditulis Carol Hyatt & Linda Gottlieb dalam bukunya When The Smart People Fail. Kedelapan unsur penyebab ketidakloyalan, faktor akan berakhirnya kekuasaan sang bos menjadi promotor penyebab lainnya.

Di beberapa daerah, contoh kasus tidak loyal mengakibatkan korban seperti banyaknya pejabat yang di copot dari kursi jabatan. Bila seorang pejabat karir dilingkungan birokrat atau pemerintahan di copot dari jabatannya dan tanpa jabatan baru, selain karena alasan persiapan pensiun dan pidana dapat dipastikan yang bersangkutan pasti tidak loyal kepada pimpinan. Alasannya, ya dari yang delapan perkara diatas. Banyak pejabat di Kabupaten Tobasa, misalnya, serta kasus baru pencopotan Sekretaris Daerah Kabupaten Karo, membuka mata, bahwa tidak ada yang ideal dalam birokrasi pemerintahan. Jika tidak memilih seseorang (bukan negara) maka kitapun tidak akan dipilih, kata politikus radikal di negara-negara seperti Jerman dan China. Loyalitas dalam bahasa sehari-hari dipahami sebagai sikap patuh, taat dan menurut pada perintah atasan. Jika tidak loyal, pasti penyebabnya salah satu dari delapan hal diatas. G.Watss Cunningham, salah seorang diantara kaum idealisme terkemuka Amerika Serikat, mendefenisikan idealisme sebagai “ suatu ajaran kefilsafatan yang berusaha menunjukkan agar kita dapat memahami materi atau tatanan kejadian-kejadian yang terdapat dalam ruang dan waktu sampai pada hakekatnya yang terdalam, maka ditinjau dari segi logika kita harus membayangkan adanya jiwa atau roh yang menyertainya dan yang dalam hubungan tertentu bersifat mendasari hal-hal tersebut “. Pemahaman ruang dan waktu menurut Immanuel Kant sebagai Bentuk-bentuk pengalaman”. Menurut orang pintar, setiap manusia diciptakan menjadi seorang pemimpin atau manajer, dan paling tidak ia menjadi pemimpin atau manajer untuk dirinya sendiri. Urusan menjadi pemimpin yang lebih tinggi seperti pejabat, gubernur, bupati maupun kepala desa sekalipun, masing-masing memiliki tugas dan tanggungjawab yang berbeda walau pada hakekatnya sama, yaitu penguasaan diri dan penguasaan tugas. Seorang ahli managerial dari Amerika, Stoner, mengatakan ada 8 macam tugas pokok yang harus dikerjakan setiap manajer (termasuk individu, pemimpin bagi dirinya sendiri), yaitu : “managers work with through other people (mampu bekerjasama dengan manajer lain), managers are responsible and accountable (bertanggungjawab termasuk kepada bawahannya), managers balance competing goals and set priority ( mampu merumuskan tujuan prioritas), managers must thing analytically (mampu menganalisis dan memiliki konsep yang jelas), managers are mediator (sebagai penengah dalam permasalahan), managers are potiticians (sebagai politisi yang persuaif dan kompromi demi pekerjaan), managers are diplomats (menjadi wakil), and managers make difficult decisions (merumuskan kebijakan pada masalah sulit).

Sesuai porsinya, setiap orang harus mampu menempatkakn dirinya sebagai manajer sehingga urusan tidak loyal, tak akan berkumandang lagi. Mungkin hanya 1 dari 1000 orang yang berani dan nasibnya seperti Albert Einstein, yang mengatakan “ hukuman terhadap diri saya karena rasa tidak hormat saya kepada kekuasaan menyebabkan nasib menjadikan saya sendiri pemegang kekuasaan”.

No comments :