ROBERT HENDRA GINTING, AP, M.Si

Tuesday, 17 June 2008

Ketika Api Mulai Tidak Bersahabat

Ketika manusia di timpa musibah, apakah berupa banjir, gempa, gunung meletus atau kebakaran; yang sering menjadi sasaran kemarahan dan kekecewaan adalah orang lain, Pemerintah, bahkan Tuhan. Hanya sedikit yang mau koreksi diri serta menyadari dirinya juga ikut menjadi bahagian penyebab timbulnya masalah itu. Kehidupan manusia di dunia ini masih tergantung dari empat unsur alam seperti air, api, udara, dan tanah. Namun sebagai sahabat manusia yang baik, keempat unsur di atas juga dapat menjadi momok yang sangat menakutkan jika kurang bijaksana mengelolanya. Banjir, kebakaran, polusi udara, dan tanah longsor merupakan sebahagian contoh bencana yang menakutkan semua orang waras. Perintiwa Kebakaran sebagai kajian pada tulisan ini, selain penyebabnya karena kecelakaan dapat juga disebabkan human error atau kecerobohan manusia. Kebakaran yang meresahkan serta menimbulkan kerugian lahir bathin, sebenarnya dapat secara dini disikapi dengan upaya manajemen personal baik yang dilakukan Pemerintah maupun masyarakat luas. Ada beberapa hal yang menjadi sorotan kerja dalam menyikapi kebakaran yang belum atau sedang terjadi.

RENCANA UMUM TATA RUANG KOTA

Perumusan peruntukan lahan dan desain kota sangat penting dilakukan sebagai dokumen acuan pengambilan kebijakan pengembangan kota atau suatu wilayah. Dalam RUTRK ini selain pengaturan peruntukan lahan, tata letak bangunan, dan jalan, juga mengatur perencanaan antisipasi penanggulangan bencana-bencana seperti banjir dan kebakaran. Oleh karenanya, sebagai bidan yang merencanakan RUTRK ini, Pemerintah Daerah harus bijaksana menyusun konsep pengembangan tata ruang kota. Sebagai contoh, kesiapan dari adanya RUTRK ini, keberadaan Hydrant (titik air yang terhubung / bersumber dari pipa aliran air minum/PDAM) selayaknya tidak terlupakan selain saluran air untuk penanggulangan bencana banjir. Demikian pentingnya hydrant jika terjadi kebakaran, pemadam kebakaran tidak perlu lagi direpotkan memacu gas mencari sumber-sumber air untuk mengisi tanki mobil pemadam kebakarannya.

KESIAPAN MOBIL PEMADAM KEBAKARAN

Selain berdoa kepada Yang Maha Kuasa, melalui pemadam kebakaran tertuang sejuta harapan akan kemampuannya mengatasi kebakaran. Oleh karenanya tidak berlebihan jika sosok mobil pemadam kebakaran benar-benar menjadi “dewa penolong” yang “diagungkan”. Namun siapa sangka, kecendrungan cacian plus makian lebih mendominasi daripada pujian yang dialamatkan pada pemadam kebakaran. Beberapa penyebab utama yang melahirkannya karena lemah dan rendahnya kemampuan mobil pemadam kebakaran itu. Lemah atau rendahnya ini bisa disebabkan kurangnya perawatan mesin sebagai motor penyemprot air, sehingga kemampuan atau daya semprot air menjadi lemah dan akibatnya daya lontar air untuk memadamkan api juga lemah. Kalau demikian adanya, sulit memadamkan api dengan cepat. Kajian serta identifikasi yang tepat dalam menentukan suatu wilayah apakah termasuk daerah rawan kebakaran, sangat dibutuhkan. Jika kesimpulan yang diperoleh, daerah itu termasuk rawan kebakaran maka pihak pemerintah daerah tidak perlu ragu melengkapi perlengkapan perang melawan api yang lebih besar serta canggih. Walau kadang permasalahan dana pavorit menjadi alasan klasik. Kelambanan penanggulangan kebakaran dapat juga disebabkan pengetahuan serta keterampilan petugas yang masih rendah. Kemampuan managerial seorang petugas pemadam kebakaran ini dibutuhkan untuk menentukan strategi mematikan sumber api potensial yang tepat untuk dimatikan, bukan asal semprot.Memang tidak mudah melawan api tanpa perlindungan keselamatan diri yang tangguh, oleh karenanya pada tim pemadam kebakaran yang profesional perlengkapan baju dan helem tahan api sudah mutlak ada. Selain pergerakan anggota lebih leluasa, keselamatan dari serangan apipun dapat di eleminir. Dengan demikian dirasa adil dalam tugas penyelematan orang lain, diri kitapun terlindungi juga. Jika sudah berpikiran modern seperti tadi, Pemerintah Daerah juga selayaknya memiliki peta-peta sumber air sebagai nyawa dari tugas sebuah mobil pemadam kebakaran.

KESIAPAN APARAT

Selain perencanaan dan manajemen yang mantap dalam penanggulangan kebakaran, sosok aparat (polisi, Satpol-pp, perhubungan, dan TNI) pun dituntut kesigapannya. Saat kebakaran terjadi, sudah sifat manusia pada umumnya akan bergerombol mencari tahu apa yang terjadi dan memposisikan dirinya sebagai penonton. Oleh karenanya aparat di tuntut kesigapannya dalam banyak hal seperti pengamanan jalan untuk lalulintas mobil pemadam kebakaran, pengamanan lokasi kebakaran, dan pengamanan barang-barang korban kebakaran. Kurang siapnya aparat nantinya dapat menimbulkan berbagai kesedihan tambahan seperti terjadinya kecelakaan, kemalingan, dan lambannya proses pemadaman api karena terganggu oleh massa yang menonton. Tidak ada salahnya pihak aparat melakukan gladi-gladi dan pembagian tugas personil yang jelas terhadap masing-masing aparat. Dengan demikian berbagai peluang yang menghambat proses penanganan kebakaran serta beraksinya segelintir oknum yang mencuri kesempatan dalam kesempitan dapat di cegah sedini mungkin.

PERAN MASYARAKAT UMUM

Sebagai anggota masyarakat yang tidak terlibat dalam bencana kebakaran, sebenarnya memiliki potensi besar menyumbangkan peran dalam penanggulangan kebakaran. Salah satu cara tradisional yang dilakukan yaitu dengan membentuk barisan-barisan panjang menuju sumber air untuk mengangkat air secara berantai. Walau air yang di ambil dalam satuan kecil (ember) namun dengan semangat gotongroyong setidaknya dapat membantu proses pemadaman api kebakaran. Cara ini juga dapat dipraktekkan dalam dalam mengamankan barang-barang rumah yang akan atau terkena bencana kebakaran. Upaya tradisional ini sudah banyak dipraktekkan nenek moyang kita sejak dulu kala, contohnya sebuah karya besar seperti candi Borobudur, dibangun dengan tenaga manusia secara bergotongroyong. Partisipasi mudah sebagai anggota masyarakat yang peduli lainnya dengan memberi kesempatan aparat pemadam kebakaran menjalankan tugasnya dengan leluasa serta mengamankan diri masing-masing.

PENUTUP

Peristiwa apapun namanya yang merugikan manusia tentu tidak diinginkan. Berserah kepada Yang Maha Kuasa memang sudah menjadi kewajiban kita manusia, namun kita juga harus berusaha, berupaya memperoleh yang terbaik untuk kita dan sesama. Semoga kedepan, perhatian dan kemauan kita untuk lebih mawas diri menjauhkan kita dari bencana kebakaran dan kawan-kawannya.

No comments :